Minggu, 19 Juli 2015

Masalah Korupsi Yang Dihadapi Pak Dahlan Iskan

Kasus Gardu Listrik
Mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero, Dahlan Iskan, ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Jumat (5/6/2015). Dahlan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan 21 gardu listrik induk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) senilai Rp 1,063 triliun.
"Dahlan ditetapkan sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai kuasa pengguna anggaran, dengan sangkaan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tindak Pidana Korupsi," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DKI Jakarta Waluyo saat dihubungi Kompas.com, Jumat.
Dahlan sebelumnya telah diperiksa penyidik Kejati DKI Jakarta sebagai saksi, Kamis (4/6/2015).
Sejauh ini, penyidik Kejati DKI telah menahan sembilan orang dari 15 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka di Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta Timur.
Para tersangka yang menjalani penahanan adalah Manajer Unit Pelaksana Konstruksi (UPK) Jaringan Jawa-Bali (JJB) IV Region Jabar Fauzan Yunas; Manajer UPK JJB IV Region DKI Jakarta dan Banten Syaifoel Arief; serta Manajer Konstruksi dan Operasional Induk Pembangkit dan Jaringan (Ikitring) Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara I Nyoman Sardjana.
Selanjutnya, ada Deputi Manajer Akuntansi Ikitring JJB-Nusa Tenggara Ahmad Yendra Satriana, Asisten Engineer Teknik Elektrikal UPK JJB 2 Yushan, Ketua Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP) Totot Fregatanto, serta empat anggota PPHP, yaitu Yayus Rusyadi Sastra, Endi Purwanto, dan Arief Susilo Hadi. Beberapa waktu lalu, seorang lainnya, Direktur PT Hyfemerrindo Yakin Mandiri (HYM) Ferdinand Rambing Dien sudah ditahan oleh penyidik.
Sementara itu, dua tersangka lainnya, pejabat pembuat komitmen (PPK) sekaligus General Manager Ikitring Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, yakni Yusuf Mirand dan Hengky Wibowo, belum ditahan karena menunggu berkas berita acara pemeriksaan rampung.
Tersangka yang belum menjalani penahanan dari pihak rekanan ialah Dirut PT Arya Sada Perkasa (ASP) Egon, Direksi PT ASP Tanggul Priamandaru, serta Direksi PT ABB Sakti Industri Wiratmoko Setiadji.
Proyek pembangunan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu berjalan sejak Desember 2011 dengan target selesai pada Juni 2013. Proyek itu berupa pengerjaan pengadaan pemasangan dan transportasi pekerjaan elektromekanikal serta pengadaan pemasangan dan transportasi pekerjaan sipil.
Proyek gardu induk (GI) listrik berkapasitas 150 kilovolt itu sudah rampung lima unit, yakni GI New Wlingi, GI Fajar Surya Extention, GI Surabaya Selatan, GI Mantang, dan GI Tanjung.
Sementara itu, 13 proyek lainnya terbengkalai, yaitu GI Malimping, GI Asahimas Baru, GI Cilegon Baru, GI Palabuhan Ratu Baru, GI Porong Baru, GI Kedinding, GI Labuhan, GI Taliwang, GI Jatiluhur Baru, GI Jatirangon II, GI Cimanggis II, GI Kadipaten, dan GI New Sanur.
Sebanyak tiga proyek yang tidak dikerjakan dengan kontrak adalah GI Selong, GI Soe/Nonohanis, dan GI Kafamenanu. Para tersangka, khususnya PPK, dianggap menyalahi Pasal 11 ayat (1) huruf h Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Tugas PPK.
SUMBER :
http://nasional.kompas.com/read/2015/06/05/16365951/Dahlan.Iskan.Ditetapkan.sebagai.Tersangka.oleh.Kejati.DKI



Kasus Mobil Listrik
Dahlan tidak dijadikan tersangka dalam kasus yang, menurut Kejaksaan Agung, merugikan negara senilai Rp32 miliar.
Institusi itu sudah menetapkan dua tersangka, yakni Dasep Ahmadi dari PT Saimas Ahmadi Pratama serta Agus Suherman, dirut Perum Perikananan Indonesia yang juga mantan pejabat Bina Lingkungan Kementerian BUMN.
Dasep dituding tidak memenuhi kewajiban menyelesaikan pengadaan mobil listrik. Sebab, dari 16 mobil yang dipesan, hanya tiga unit yang selesai dibuat.
Sedangkan Agus dituding menyalahi wewenang dengan meminta BRI, PGN, dan Pertamina mengucurkan dana untuk proyek itu senilai Rp32 miliar.
Kepala Subdit Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Agung, Sarjono Turin, mengatakan "negara dirugikan secara mutlak," seperti dikutip situs berita Tempo.
Pengacara Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra menganggap tidak ada unsur korupsi dalam kasus ini, kendati kliennya hanya diperiksa sebagai saksi.
Berbicara kepada wartawan, saat jeda pendampingan terhadap Dahlan Iskan, Yusril menjelaskan bahwa kasusnya bermula beberapa waktu menjelang KTT APEC tahun 2013 di Bali.
Saat itu di rapat-rapat kabinet muncul ide menggunakan forum akbar itu untuk mempromosikan kemampuan Indonesia membuat mobil listrik. Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN lalu diserahi tugas menyiapkannya.
Namun, "karena tidak dianggarkan pembiayaannya di APBN, maka dicarikan jalan keluar," kata Yusril.
Sesudah berbagai rapat, ditemukan jalan keluar berupa menghimpun dana dari biaya promosi BUMN yang tertarik.
"Ada tiga yang tertarik: Pertamina, PT Gas Negara, dan Bank Rakyat Indonesia. Ketiganya menyatakan berminat, bukan ditunjuk," tegas Yusril lagi.
Ketiga BUMN kemudian berurusan dengan PT Sarimas Ahmadi Pratama, yang dianggap sudah berpengalaman membuat mobil listrik, untuk membuat 16 mobil listrik dengan biaya Rp32 miliar.
Dari 16 mobil itu hanya tiga yang selesai. "Namun itu urusan antara pembuat mobil dengan tiga BUMN yang memesan dengan dana promosi mereka," kata Yusril.
Namun kemudian Dahlan Iskan mengaku prihatin bahwa mantan stafnya, Agus Suherman, yang ditetapkan sebagai tersangka. "Saya sedih ini menjadi masalah pidana," kata Dahlan seperti dikutip Tempo.
Dahlan menyatakan bersedia mengganti seluruh pengeluaran yang dianggap sebagai kerugian.
Namun Yusril menegaskan, kesediaan Dahlan mengganti seluruh pengeluaran itu bukan merupakan pengakuan bersalah. "Itu watak Pak Dahlan. Sebagaimana dulu, ketika para suporter Persebaya melakukan perusakan di kereta api, Pak Dahlan sebagai Ketua Persebaya waktu itu menyatakan akan mengganti seluruh kerugian, kata Yusril.
Lepas dari itu, menurut Yusril, dalam pandangannya, tidak ada unsur korupsi dalam urusan ini, karena menyangkut hubungan profesional antara dua pihak.
Bahwa terjadi "saling menyalahkan tentang fakta bahwa dari 16 mobil listrik yang dipesan, hanya tiga yang selesai, itu masalah antara tiga BUMN itu dengan PT Sarimas Ahmadi Pratama."
Betapapun, Kejaksaan Agung tetap menganggap ada unsur kerugian negara, karena penyandang dana proyek itu adalah badan usaha milik negara.
SUMBER :
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150617_dahlan_iskan_kasus_mobil_listrik

Tanggapan 2 kasus diatas
Dikasus gardu listrik yang di hadapi Bapak Dahlan, disini saya memberikan tanggapan setelah membaca informasi dari sumber-sumber yang lain. Saya melihat ada tindakan sikap kecerobohan pak Dahlan dalam menjalan tugas pembangunan 21 gardu listrik induk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan untuk masalah mobil listrik, menurut saya ini adalah permainan anak buah pak Dahlan saja dan tidak ada unsur korupsi pada pak Dahlan.

Kamis, 14 Mei 2015

analisis rasio solvabilitas, likuiditas, provabilitas

.      Rasio Solvabilitas
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengelolaan sumber dana perusahaan. Beberapa rasio ini antara lain, Rasio Total Hutang terhadap Modal sendiri, Total Hutang terhadap Total Asset, TIE (Time Interest Earned).
§  Total Dept to Equity Ratio = (Total Hutang / Ekuitas Pemegang Saham) x 100%
Total Dept to Equity Ratio    = (Rp2.139.299 / Rp2.300.500) x 100%
                                                   = 0,92 x 100% = 81%
Analisis : Merupakan perbandingan antara hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Perusahaan dibiayai 92% untuk tahun 2004.

§  To Debt to Asset Ratio = (Total Hutang / Total Aktiva) x 100%
To Debt to Asset Ratio  = (Rp 2.139.299/ Rp 3.012.500) x 100%
                                        = 0,71 x 100% = 71%
Analisis : Pendanaan perusahaan dibiayai dengan hutang untuk tahun 2004  artinya bahwa setiap Rp 100 pendanaan perusahaan Rp 71 dibiayai dengan hutang dan Rp 29 disediakan oleh pemegang saham.
  2.    Rasio Likuiditas
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban-kewajiban lancenya. Rasio ini antara lain, Rasio Kas (Cash Ratio), Rasio Cepat (Quick Ratio), Rasio Lancar (Current Ratio).
§  Current Ratio = Total Aktiva Lancar / Total Hutang Lancar
Current Ratio   = Rp 6.464.000,00 / Rp Rp. 5.488.400,00 = Rp  1,17
Analisis : Setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh 1,17 harta lancar atau perbandingannya antara aktiva lancer dengan hutang lancar adalah 1,17 : 1

§  Quick Ratio = (Total Aktiva Lancar – Persediaan) / Total Hutang Lancar
Quick Ratio  = (Rp 6.464.000,00 1.056.500,00Rp) / Rp1.570.700                     
=  5.407500 / 1.570.700= Rp 3.44
Analisis : Rata-rata industri tingkat liquidnya atau quick ratio adalah 0,5 kali sedangkan pada PT. Nusantara 3.44.
Maka dengan begitu keadaannya sangat baik karena perusahaan dapat membayar hutang walaupun dikurangi persediaan.

3.      Rasio Provabilitas / Rentabilitas
Rasio yang digunakan untuk megukur kamampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rasio ini antara lain, GPM (Gross Profit Margin), OPM (Operatig Profit Margin), NPM (Net Profit Margin), ROA(Return to Toal Asset), dan REO (Return Of Equity).
§  Gross Profit Margin = (Laba Kotor / Penjualan Bersih) x 100%
Gross Profit Margin    = (Rp 556.412.908.045 / Rp 1.190.852.893.340) x 100%
                                     =  0,46 x 100% = 46%
Analisis : Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari penjualan bersih adalah sebesar 46%

§  Net Profit Margin = (Laba Setelah Pajak / Total Aktiva) x 100%
Net Profit Margin   = (Rp 149.149.548.025 / Rp 1.204.944.681.223) x 100%
                                = 0,12 x 100% = 12%
Analisis : Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih adalah sebesar 12%

§  Operating Profit Margin = (Laba Usaha / Penjualan Bersih) x 100%
 Operating Profit Margin    =  (Rp 3.125.499/ Rp8.678.900) x 100%
                                     = 0,36 x 100% = 36%
Analisis : Operating Ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga rasio ini rendah menunjukan keadaan yang baik karena setiap rupiah penjualan yang terserap dengan biaya juga rendah dan tersedia untuk laba yang besar.

§  Return Of Equity = (Laba Bersih Setelah Pajak / Total Modal Pemegang Saham) x 100%
Return Of Equity   = (Rp 2.342.500/ Rp 5.345.700) x 100%
                               = 0,43 x 100% = 22%
Analisis : pengambilan atas modal perusahaan sebesar  43%


analisis sumber dan penggunaan modal kerja

–   Mengidentifikasi dan menentukan besarnya sumber modal kerja:
Sumber  Modal Kerja :
1. Hasil operasi:  Laba ………Rp.    521.900,00
Depresiasi    Rp.     83.500,00
2. Penjualan saham                  Rp.   600.000,00
Jumlah             Rp.1.205.400,00
–   Mengidentifikasi dan menentukan besarnya penggunaan modal kerja:
Penggunaan  Modal Kerja :
Pembelian Gedung ……………Rp. 400.000,00
Pembelian Alat-alat Kantor       Rp.  150.000,00
Pembayaran Hutang Obligasi   
 Rp.  150.000,00
Jumlah              Rp.  700.000,00
A. Sumber  Modal Kerja :
1. Hasil operasi:  Laba ……..Rp. 521.900,00
Depresiasi  Rp.   83.500,00
Rp.605.400,00
2. Penjualan saham                                         Rp.600.000,00
Jumlah  Sumber …………………………         Rp.1.205.400,00
B. Penggunaan  Modal Kerja :
1. Pembelian Gedung …………………..…Rp. 400.000,00
2. Pembelian Alat-alat Kantor  ………..     Rp.  150.000,00
3. Pembayaran Hutang Obligasi ………..   Rp.  150.000,00
Jumlah Penggunan ……………………………. Rp.  700.000,00
C. Kenaikan Modal Kerja  …………………………………….. Rp.  505.400,00
Jadi kenaikan modal kerja bertambah sebesar Rp. 505.400


Analisis Sumber dan Penggunan Kas

Pengertian Analisis Sumber dan Penggunaan Kas
Analisis sumber dan penggunaan kas adalah analisis laporan keuangan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang perubahan uang kas perusahaan serta sebab-sebab perubahan tersebut yang dikenal dengan sumber  dan penggunaan kas pada suatu periode.
Informasi ini penting untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menge-lola uang kas untuk membiayai operasi perusahaan. Uang kas adalah aktiva yang paling likuid. Sediaan uang kas yang terlalu over sangat tidak efisien  dan sediaan uang kas yang terlalu  under sangat mengganggu kelancaran operasi perusahaan.
Untuk itu, yang menjadi sumber dan penggunaan kas adalah akun-akun selain (di luar) akun kas.
Sumber Penerimaan Kas:
– Hasil penjualan investasi jk panjang dan aktiva tetap dengan tunai.
– Penjualan (emisi) saham perusahaan dengan tunai.
– Penerimaan pinjaman, baik jk pendek (wesel) maupun jk panjang (obl & hipotek).
– Penjualan tunai surat-surat berharga  (efek-efek).
– Penerimaan piutang, baik piutang dagang maupun piutang wesel.


Penyelesaian:
–  Menentukan besarnya perubahan uang kas:
Ada kenaikan uang kas sebesar ………………………………… Rp. 374.200,00
–  Mengidentifikasi dan menentukan besarnya sumber kas:
Sumber kas berasal dari:
1. Hasil  operasi tahun  2004:
Laba bersih …………………………………………………Rp.  521.900,00
Ditambah dengan:
Penurunan Piutang wesel ………………Rp.250.000,00
Penurunan Persekot biaya………………Rp.    9.000,00
Kenaikan Hutang gaji …………………..Rp.131.500,00
Depresiasi Aktiva tetap ……………….. Rp.  83.500,00
Rp.  474.000,00
Rp.  995.900,00
Dikurangi dengan:
Kenaikan Piutang dagang ………………Rp.288.600,00
Kenaikan Persediaan ……………………Rp.105.300,00
Penurunan Hutang dagang ………………Rp.102.800,00
Penurunan Hutang wesel ………………..Rp.  25.000,00
Rp.  521.700,00
Rp.  474.200,00
2. Penjualan Modal saham  ……………………………………Rp.  600.000,00
Jumlah sumber penerimaan kas …………………………..Rp.1.074.200,00
–  Mengidentifikasi dan menentukan besarnya penggunaan kas:
Penggunaan  kas untuk:
1. Pembelian Gedung …………………………………………Rp. 400.000,00
2. Pembelian Alat kantor……….……………………………. Rp. 150.000,00
3. Pembayaran Hutang obligasi…………….…………………Rp. 150.000,00
Jumlah penggunaan kas ……………………………………….Rp. 700.000,00                          





LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS
Periode yang berakhir  31 Desember 2004
Sumber kas berasal dari:
1. Hasil  operasi tahun  2004:
Laba bersih …………………………………………………Rp.  521.900,00
Ditambah dengan:
Penurunan Piutang wesel ………………Rp.250.000,00
Penurunan Persekot biaya………………Rp.    9.000,00
Kenaikan Hutang gaji …………………..Rp.131.500,00
Depresiasi Aktiva tetap ……………….. Rp.  83.500,00
Rp.  474.000,00
Rp.  995.900,00
Dikurangi dengan:
Kenaikan Piutang dagang ………………Rp.288.600,00
Kenaikan Persediaan ……………………Rp.105.300,00
Penurunan Hutang dagang ………………Rp.102.800,00
Penurunan Hutang wesel ………………..Rp.  25.000,00
(Rp.  521.700,00)
Rp.  474.200,00
2. Penjualan Modal saham  ……………………………………Rp.  600.000,00
Jumlah sumber penerimaan kas ……………………………Rp.1.074.200,00
Penggunaan  kas untuk:
1. Pembelian Gedung ………………….… Rp.  400.000,00
2. Pembelian Alat kantor……….………… Rp.  150.000,00
3. Pembayaran Hutang obligasi……………Rp.  150.000,00
Jumlah penggunaan kas …………………………………..(Rp.   700.000,00)                          
                               K  e  n  a  i  k  a  n     k  a s ……………..  Rp.   374.200,00
Dengan begitu kenaikan kas sebesar Rp. 374.200